bodohnya aku
ketika bibir ini terucap kata itu
seperti kering mataku
tapi ada sudut yang tersayat
tersayat hebat
bahkan sampai saat ini
bodohnya aku
aku tinggalkan tempat itu
silau tabir kemilau tempat lain
kujalani kemilau itu
apadaya hujan batu terjal yang kucapai
dan sayatan itu masih ada
bodohnya aku
ketika saat ini aku hanya bisa memandangnya
hanya bisa mengingat senyumnya
seperti rara mendut, putri pati
memandang pranacitra, putri saudagar pekalongan
tapi di cerita itu
rara mendut dan pranacitra
mereka akhirnya hidup berdua
sampai mati pun sama sama
oh indahnya kisah mereka
Bandung, 6 Juni 2009
Filed under: Sendu
Komentar Terakhir